Gema Guntur Sambernyowo di Tanah Tambang Vale Pomalaa

  • Share
Pak Guntur Sambernyowo, Coordinator Mine Rehabilitation & Environmental PT Vale Indoenesia di Blok Pomalaa memperlihatkan koleksi tanaman di Nursery

Kolaka, Wonuanews.com – “Maaf pak, benar namanya Guntur Sambernyowo?,” tanyaku dengan nada penasaran kepada sosok pegawai PT. Vale Indonesia yang menjadi pemandu kami saat melakukan reportase di wilayah Kontrak Karya (KK) PT. Vale Indonesia Tbk di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Sabtu (5/9).

Pertanyaan itu terlontar lantaran  rasa penasaranku dan seolah tak percaya dengan nama yang menurutku “nyeleneh” itu. Kepada kami dalam perjalanan menuju portal pintu masuk “Kantor dan camp site” PT Vale Indonesia Tbk di Blok Pomalaa, dia memperkenalkan identitasnya dengan sebuah nama yang tak lazim umumnya.

“Benar, itu pemberian langsung dari bapak saya, ceritanya begini, waktu saya dilahirkan, bapak saya seorang polisi Brimob sedang bertugas di Kalimantan, waktu itu banyak teman bapak saya terluka saat sedang bertugas melawan pemberontak DI/TII, mungkin untuk mengenang teman-temannya itu, dia memberi nama itu, tapi benar itu nama lengkap saya, kalau tidak percaya ini identitas saya,” paparnya sembari menyodorkan beberapa kartu identitas termasuk kartu pengenal perusahaan tempatnya bekerja.

Benar saja, Guntur Sambernyowo begitu tulisan pada identitas beliau yang menghapus rasa penasaran saya itu. “Anda adalah orang yang kesekian kalinya menanyakan itu, hampir semua tamu bertanya seperti itu, seolah tidak percaya,” ucap Pak Guntur mengulum senyum.

Sosok pak Guntur Sambernyowo, adalah andalan PT. Vale Indonesia Tbk di wilayah Kontrak Karya seluas 20.286 Ha di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara untuk urusan rehabilitasi lahan bekas tambang.

Meski sudah berumur 56 tahun, pak Guntur masih terlihat energik. Dengan gaya nyentrik ala pecinta alam, rambut gondrong melewati bahunya, siapa sangka saat ini Pak Guntur Sambernyowo dipercayakan sebagai Coordinator Mine Rehabilitation & Environmental PT Vale Indonesia di Blok Pomalaa.

“Teman-teman di sini juluki saya Wiro Sableng masuk hutan,” paparnya untuk lebih mengakrabkan diri dengan kami.

Ramah dan suka bercerita membuat perjalanan saya bersama seorang rekan jurnalis di pagi cerah itu tak terasa jauh. Melewati jalan yang tak beraspal sambil menikmati pemandangan melalui kaca mobil yang tak dilapisi riben, pak Guntur banyak bercerita kepada kami tentang pengelolaan lingkungan di wilayah tambang Vale di Blok Pomalaa itu.

Pemandangan hijaunya kerimbunan pepohonan tersuguh di mata kami di sepanjang jalan menuju portal masuk. Tetapi tak jauh dari depan portal masuk itu, pertemuan lanskap alam yang kontras antara yang terjamah dan tidak terjamah juga tersuguh.

Yang tak terjamah masih meyuguhkan pemandangan bukit-bukit hijau oleh rimbunnya pepohonan hijau adalah wilayah Kontark Karya PT Vale Indonesia Tbk. Karena belum berproduksi dan mendirikan pabrik, bentangan alam itu masih terlihat utuh.

Yang terjamah tersuguh bukit-bukit yang gundul, tumpukan material tanah merah, lubang-lubang galian yang luas, bahkan kendaraan alat berat seperti exacavator bergerak diantara tumpukan material tanah merah mengandung nikel tersebut tersaji di depan mata. Puluhan perusahaan-perusahaan tambang sekitar sedang mengeruk ore nikel. “Itu sudah diluar wilayah kami, memang banyak IUP-IUP lain di sekitar kami yang produksi, saat ini hanya Vale yang belum berproduksi,” ujar Pak Guntur.

“Maaf teman-teman harus turun dulu melapor dan mengambil identitas visitor di pos satpam,” sambungnya menghentikan kendaraan di sebuah portal pintu masuk.

Kami pun menuju sebuah pos penjagaan. Seorang sekuriti yang memegang alat pengukur suhu meminta kami menujukan surat Swab Antigen, lalu mengukur suhu tubuh kami. Kami juga disodorkan buku tamu dan daftar tabel protokol kesehatan yang harus diisi dan ditanda tangani. “Hasil pengukuran suhunya ditulis pak,” pinta Sekuriti itu.

Komitmen menerapkan protokol kesehatan dimasa pandemi Covid-19 memang secara ketat diterapkan PT Vale Indonesia. Tak sembarang orang boleh masuk di wilayah itu tanpa hasil pemeriksaan negatif Swab Antigen. Tidak hanya itu, secara detail kondisi pengunjung akan didata sebelum masuk ke wilayah itu.

“Kita langsung menuju Nusery dulu, disana kita bisa lihat proses pembibitan dan perawatan sejumlah tanaman,” kata Pak Guntur dengan menancap gas pedal menuju lokasi yang dimaksud.

Suasana sejuk nan asri menyambut kedatangan kami di area pembibitan atau yang diberi nama Nursery. Tak pernah terbayangkan jika area yang luasnya 0.06 Ha, dengan bangunan 200 m2 itu menjadi tempat yang begitu penting bagi kelangsungan pertumbuhan berbagai jenis tanaman untuk ditanam di area bekas tambang.

Puluhan jenis bibit pepohonan dipelihara dan dikembangkan ditempat ini untuk memenuhi kebutuhan revegetasi (penanaman kembali) di kawasan perusahaan nikel ternama di dunia itu.

“Di sinilah kami menyemaikan dan merawat puluhan jenis tanaman untuk keperluan revegetasi, meski saat ini kami belum produksi atau belum ada pabrik, tapi kami sudah mempersiapkannya sejak dulu,” ujar Pak Guntur.

Keberadaan Nursery itu kata Pak Guntur sudah seperti rumah baginya. Fasilitas penting itu menjadi pendukung dalam komitmen menghijaukan kembali wilayah bekas tambang di Pomalaa yang pernah dikeruk pada tahun 2005-2008 dalam kerjasama dengan Pemda setempat.

“Ada empat zona yang pernah dibuka pada tahun 2005-2008 dulu, waktu itu PT. Vale masih bernama PT. Inco,  total luas bukaanya 111.74 Ha, yang telah direklamasi seluas 93,55 Ha, nanti kita lihat ya langsung di lapangan, sisanya yang terbuka itu 18.19 Ha untuk kantor, camp, jalan, sedimentasi pond, pos Security, dan Nursery,” terang Pak Guntur.

Di Nursery ini, pria yang bergabung sejak tahun 2006 di PT Vale Indonesia itu menceritakan upayanya mereklamasi lahan bekas dikeruk seluas 93,55 ha.

Ketgam: Nursery PT Vale Indonesia Tbk di Blok Pomalaa/ Foto Mirwanto Muda

Berbagai jenis tanaman lokal didapatkannya dari hasil pengumpulan sebelumnya di area KK di Blok Pomalaa. Sebahagiannya juga merupakan jenis tumbuhan lokal ataupun endemik Sulawesi seperti kayu Kuku, kayu Kolaka, kayu Bitti, dan Tirotasi. “Kami juga sering menggandeng orang-orang lokal untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi nama-nama tumbuhan lokal disini,” kata Pak Guntur.

Pak Guntur menjelaskan, dalam melakukan kegiatan penghijauan butuh teknik dan metode tertentu dan belajar dari kondisi alam sekitar. Meski dengan berbagai kendala dihadapinya, lulusan Sarjana Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat itu mampu mengatasinya atas dukungan penuh perusahaannya.

“Tidak langsung ditanam begitu saja, lahan tambang yang sudah diolah itu, ditata dulu, lalu ditutup dengan top soil, kemudian membuat lubang tanam, dan memberinya pupuk organik atau pupuk kandang,” jelasnya.

Dalam penyediaan pupuk, terutama untuk pupuk kandang, kata Pak Guntur,  Vale juga memberdayakan masyarakat sekitar. “Bisa ditanya Karang Taruna sekitar, kami melatihnya membuat pupuk dan kemudian kami pula yang membeli pupuk dari mereka, saya tidak akan terima kalau pupuknya asal-asalan atau tidak sesuai standar, tangan saya ini seperti termometer, saya celupkan saja ke pupuk sudah tahu bagaimana kualitasnya, bagus atau tidak,” terangnya sambil memperlihatkan telapak tangannya untuk meyakinkan bahwa dia memang ahlinya.

Pak Guntur juga banyak bercerita dukungan perusahaan dalam kegiatan reklamasi di empat Zona itu. “Sebelum tumbuhan pioner dan tumbuhan lainnya ditanam, dilakukan dulu penanaman cover crop, atau jenis rumput-rumputan seperti Bergundi, Sorgum untuk mencegah terjadinya erosi top soil dan menjadi mulsa serta memberi kelembaban pada tanah,” terangnya.

Tak tanggung-tanggung, kata pak Guntur, perusahaan bahkan mengimpornya dari Australia untuk tanaman Cover Crop tersebut.”Ada yang kami impor bibitnya dari Australia, tetapi ada juga rumput lokal di sini yang kita kembangkan yang bagus untuk cover crop yang saya kasih nama Tetenggala, dan itu sudah saya bawa juga di Bahodopi di lokasi mining kami di sana untuk dikembangkan,” terangnya.

Ketika sedang asik mendengar penjelasan pak Guntur, tiba-tiba teman saya membisik mengingatkan untuk bergerak melihat area lainnya. Karena cuaca saat ini tidak bisa diprediksi, dia tak ingin kehilangan moment mengambil gambar di lokasi lainnya. “Tenang saja, cuaca hari ini cerah, tidak ada Guntur, yang ada hanya pak Guntur“ kataku pelan sembari tertawa getir.

Memang benar langit terbilang cukup cerah untuk beraktivitas. Kekhawatiran temanku itu cukup beralasan, sebab tak seperti biasanya untuk saat ini, hampir setiap harinya cuaca mendung dan hujan.

Saya melirik penunjuk waktu yang tertera di bagian atas layar Andoridku yang sudah menunjuk waktu: 10.25 WITA. “Ayo kita menuju lokasi yang sudah kami hijaukan,” ajak Pak Guntur keluar dari area Nursery.

Cahaya matahari yang cukup terang bersinar hari itu pertanda baik untuk melakukan perjalanan jurnalistik di lokasi tambang. Sebab jalan-jalan yang tak beraspal akan kering dari lumpur dan tidak licin.

Tepat pukul 10.30 kendaraan double kabin kami tumpangi mulai bergerak. Sekitar 15 menit berlalu, pak Guntur menghentikan sejenak kendaraan dan mulai menggeser tuas 4WD High Range. “Ini Zona dua, kita akan naik ke atas, di sana bisa ambil gambar melihat Zona tiga yang sudah menghutan,” terangnya.

Dengan mengaktifkan roda double handle, Pak Guntur bak driver off road melaju pada tanjakan yang cukup terjal dengan jalan berbatu. Sesekali menggilas batang pohon mati yang tumbang menghalangi jalan. “Sudah biasa saya lewat di sini, ini tempat bagus untuk melihat-lihat sekitar,” terang Pak Guntur melihat temanku yang duduk di bagian depan yang merapatkan saftey beltnya.

Kami pun tiba di area datar di atas ketinggian. Dari sini kami bisa melihat bukit-bukit hijau sekitar. Ini adalah salah satu area yang juga dihijaukan oleh Pak Guntur bersama timnya. Pohon-pohon setinggi hingga 10 meter di atas bukit menyembul dengan latar belakang langit dengan awan putih yang cerah.

“Tahun 2007 kami mulai melakukan reklamasi semua Zona yang pernah dikeruk, untuk kebutuhan air tanaman, kami menyedot air dari bawah sana dengan menggunakan beberapa pompa air untuk kebutuhan penghijauan, saya syukur perusahaan mendukung penuh apapun keperluan waktu itu, kalau untuk reklamasi perusahaan memang sangat mendukung, asal itu bisa dipertangungjawabkan,” jelasnya sambil menunjuk area jurang lokasi pengambilan air.

Saya pun mencari tempat yang tepat untuk mengambil gambar sekitar. Saking lebatnya pepohon sekitar, saya harus mencari celah untuk bisa mengambil gambar bukit Zona tiga yang sudah dihijaukan.

“Di Zona dua ini, dan Zona tiga yang di sana itu tidak begini dulu, sangat gersang waktu diambil ore nikelnya, nanti bisa dibandingkan area Zona tiga saat sebelum direklamasi dengan kondisi saat ini, rona awal atau gambar sebelum reklamasi nanti minta saja sama management,” terang Pak Guntur sambil menunjuk arah yang searah dengan dengan lensa kamera saya.

Ketgam: Zona tiga saat dikeruk tahun 2005 sebelum dihijaukan (kiri) sumber foto FB Guntur Sambernyowo – Kondisi Zona hijau setelah direklamasi saat ini (kanan) foto Mirwanto Muda

Saya sedikit melongo. “Kok bisa sehijau ini sekarang?“ tanya saya. “Yang pasti butuh upaya dan kerja keras,“ ujar pak Guntur . Saya mengerutkan kening membayangkan betapa ulet dan sabarnya Pak Guntur bersama timnya menghijaukan lokasi yang luas itu. “Hmmm… hanya dua tahun dikeruk, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikannya menjadi hutan kembali, betapa hijaunya bukit-bukit yang tadinya gundul ini. Sementara, diluar Kontrak Karya PT Vale sana banyak bagian yang rusak tak dihijaukan, seolah dibiarkan oleh para pemilik IUP lainnya,” gumamku.

“Ada kepuasan sendiri bisa menikmati keindahannya sekarang. Meski tidak seratus persen seperti semula sebelum dikeruk, tapi setidaknya kami sudah membuatnya menghutan kembali, coba kalau masih gundul, tentu saya tidak akan mengajak kalian ke sini,” ujar pak Guntur cengar-cengir.

Kami pun diajak menuju Bukit Zona tiga. Kendaraan melingkari jalan di bukit itu. Tanaman dengan berbagai jenis terlihat tumbuh subur. Nyanyian suara burung-burung juga nampak terdengar.

“Gazebo ini biasa kami gunakan untuk pertemuan, atau tempat istirahat bagi tamu-tamu yang datang, sudah banyak tamu yang sering datang di sini,  mahasiswa, yang mau ambil sarjana atau gelar doktornya  datang untuk mengambil data atau study lapangan,” terang Pak Guntur menunjuk Gazebo setibanya kami di puncak bukit hijau Zona tiga itu.

Rupanya keberhasilan Pak Guntur bersama timnya menghijaukan lokasi area bekas tambangnya tidaklah sia-sia. Berkat pengalamannya itu, membuatnya pernah menjadi “role model” atau teladan untuk pembelajaran revegetasi bagi para pemilik Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di Sulawesi Tenggara.

“Perusahaan kami pernah menjadi role model bagi IUP-IUP di Sulawasi Tenggara untuk urusan penghijauan area bekas tambang, saya bahkan dipanggil kesana-kemari menjadi trainer, bukan saya yang minta tapi mereka, mungkin mereka melihat upaya kami berhasil,” paparnya.

Tak jauh dari gazebo itu, beberapa buah yang mirip kacang berwarna coklat pipih berseliweran di antara rerumputan hijau Tetenggala yang menggugah rasa ingin tahuku. Di sekitarnya tampak pula beberapa anakan tumbuhan dengan tiga lembar daun menjulur tumbuh.

Ketgam : Buah Kayu Kuku (kiri) dan anakan kayu Kuku (kanan) yang tumbuh di area Zona tiga/ foto Mirwanto Muda

“Nah ini dia buah kayu Kuku yang kita tanam dulu, tuh pohonnya di atas, Alhamdulillah sudah berbuah, dan sudah ada anakannya, ini bisa dijadikan bibit lagi,” kata pak Guntur menunjuk sebuah pohon kayu Kuku setinggi sepuluh meteran dan mendekatiku dengan senyum lebar.

Kayu Kuku termasuk dalam jenis kayu endemik atau lokal Sulawesi yang saat ini masuk kategori terancam punah.  Salah satu penyebabnya dikarenakan penggunaannya yang terus meningkat. .

“Bayangkan kalau kayu ini punah, kalian tidak akan bisa melihatnya secara langsung bentuknya begini,” katanya sambil memungut beberapa buah kayu Kuku tersebut.

Senyum sumringah pertanda bahagia terpancar jelas di raut wajah Pak Guntur. Usahanya tak sia-sia, empat belas tahun menanti membuahkan hasil. Betapa tidak, dia melihat hutan di area itu sudah memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya.

Usai menikmati pemandangan hutan sekitar dan mengambil beberapa gambar di Zona tiga, Pak Guntur mengajak kami melihat dua Zona lainnya yang juga sudah dihijaukan.

Setelah itu kami juga diajak untuk melihat “pond-pond” atau kolam-kolam penampungan dan pengendapan air. “Kami membuat jalur air menuju poket-poket pond agar tidak meluap saat hujan turun, dan sebelum diteruskan ke Sungai Huko-Huko, airnya diendapkan dulu di pond-pond besar, ada lima pond-pond besar yang saling berhubungan, ayo kita lihat,” ajaknya.

Meski belum ada limbah cair yang dihasilkan karena belum membangun pabrik smelternya di wilayah itu, soal luapan air dan lumpur dari wilayah Kontrak Karya-nya adalah hal yang sangat diperhatikan PT. Vale, agar tidak menjadi beban lingkungan dan manusia sekitar.

Ketgam : Area Emea Pond, kolam penampung air sebelum dilepaskan ke sungai Huko-Huko di area Wilayah Kontrak Karya PT Vale Indonesia di Blok Pomlaaa/ Foto Mirwanto Muda

“Kita membuat kolam-kolam pengendapan dengan tujuan untuk membuat air dari bukit-bukit tidak meluap, mengendapkannya dulu menjadi jernih, jadi air-air sewaktu hujan tiba tidak langsung menuju sungai, harus melalui rangkaian pengendapan, terakhir diendapkan di Emea Pond ini, dan setiap harinya ada pegawai kami yang mengontrol kandungan air itu, untuk memastikan kandungan airnya aman bagi manusia dan lingkungan sekitar. Alhamdulillah sejauh ini sungai Huko-Huko tetap jernih dan tidak ada protes dari masyarakat sekitar,” papar Pak Guntur setibanya kami di Emea Pond.

“Sekarang ke mana lagi? mau lihat apa lagi?” tanya Pak Guntur. “Saya rasa sudah cukup untuk saat ini Pak Guntur, sudah puas kami,” kata saya.

“Ada hikmah tersendiri sebenarnya juga dari belum berdirinya pabrik smelter PT. Vale Indonesia di sini, sebab akan banyak bukit-bukit yang terbuka dan pak Guntur tentu akan kerepotan lagi,” kataku kepadanya dalam perjalanan pulang.

Pak Guntur hanya tersenyum simpul sejenak, lalu berkata : “Tapi sebenarnya saya berharap cepat terealisasi, saya menantikannya juga, agar masyarakat lokal di sini tak hanya jadi penonton,  saya juga masih ingin baktikan ilmu saya untuk tanah leluhur saya ini”.

Laporan: MIRWANTO MUDA

>
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *