Di Matano, Vale “Memahat” Keberlanjutan

  • Share
Pulau Ampat, salah satu kawasan di Danau Matano yang sering dikunjungi untuk rekreasi dan kegiatan olahraga air lainnya, Foto Mirwanto Muda/ Wonuanews.

Matano, adalah danau yang menyimpan sejarah yang panjang sejak jaman purba. Sebuah danau yang menurut para ilmuwan terbentuk dari aktivitas tektonik yang terjadi pada masa kehidupan tua dahulu. Di sekitar danau ini, Sebuah perusahaan Nikel ternama dunia, PT Vale Indonesia beraktivitas.

Setengah abad beroperasi di kawasan danau purba bersejarah ini,  PT Vale membuktikan komitmennya “memahat” pertambangan yang berkelanjutan.

Mirwanto Muda, Sorowako-Sulawesi Selatan.

Danau purba ini berada di timur Bumi Saweri Gading (Kabupaten Luwu Timur), provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Sulawesi Tengah.

Danau purba Matano ini laksana sebuah magnet, memiliki daya tarik yang kuat, dengan keindahannya tersendiri yang tersaji menawan dari airnya yang jernih membiru. Pemandangan indah seluas mata memandang mengundang decak kagum saat kami melihatnya secara langsung.

Pesonanya memang belum sefamiliar Danau Toba di Sumatera, namun sejak dahulu Matano sudah tak asing di Nusantara ini. Matano adalah pusat perhatian peradaban. Hamparan daratannya, menyediakan nikel untuk kehidupan yang lebih baik. Airnya yang membentang, menyimpan romantika peradaban dan begitu kaya.

Dikutip dari laman nationalgeographic.grid.id, Danau Matano merupakan salah satu situs paling awal yang menyimpan cerita industri pertambangan atau peleburan besi di Asia Tenggara. Situs peradaban besi di sini berkembang dari abad ke-8 sampai sampai abad ke-17.

Disebutkan bahwa berdasarkan naskah Majapahit abad ke-14 Nagarakertagama, kawasan Luwu (kawasan yang dekat dengan Danau Matano), diduga merupakan penghasil besi yang diekspor ke Jawa karena kualitasnya yang tinggi.

Dan penelitian terbaru menyebutkan para arkeolog melaporkan telah ditemukan situs besi kuno yang hilang sejak abad ke-delapan lalu. Situs itu berada di Pulau Ampat sekitar Danau Matano, Sulawesi Selatan. Artinya Matanao sejak dahulu kala merupakan situs peradaban dan sekaligus sebuah situs pertambangan besi.

Hingga kini, di Matano masih tersimpan serpihan bukti peradaban dan pertambangan yang berjalan seirama. Dan PT Vale Indonesia membuktikan kerbelanjutan peradaban yang harmonis tersebut.

Selama 54 tahun beroperasi dengan luas Kontrak Karya 70.566 di Sulawesi Selatan dan sangat dekat dengan danau bersejarah tersebut, PT Vale membuktikan komitmen menjaga keberlanjutan situs peradaban purba itu.

Area penambangan di lokasi konsesi PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan/ Foto: Mirwanto Muda, Wonuanews.

Bagi PT Vale, di kawasan Danau Matano bukan sekedar sebuah tempat menambang belaka, Matano adalah ibarat berlian yang tak ternilai. Nikelnya melimpah ditengah peradaban yang terjaga. Matano adalah salah satu sumber kehidupan yang mesti dilestarikan.

“Rekan-rekan media bisa melihat langsung (Danau Matano), saya gak bilang kita yang terbaik, kalau ada yang lebih baik dari kami sampaikan ke kami, jadi kita sama-sama bangun industri kita ini dengan cara yang lebih baik, karena saya percaya sumber daya alam itu tidak dapat diperbaharui, kalau hanya nambang-nambang dengan gali sana-sini, semua bisa, tapi mau kasih makan sampai berapa generasi?,” ungkap Febriany Eddy, CEO PT Vale Indonesia saat menjamu kedatangan kami, sejumlah jurnalis Media Visit PT Vale Batch_I 2022 di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan pada (3/8/2022).

Febriany Eddy, CEO PT Vale Indonesia

CEO perempuan pertama di perusahaan tambang itu juga memastikan dalam operasinya, mempraktikan penambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap lingkungan dan masyarakat, termasuk merawat Danau Matano dari kerusakan akibat pertambangan.

“Kehidupan kita saat ini tidak lepas dari tambang, namun kita juga harus menjaga aktivitas tambang ini seminimal mungkin dampaknya terhadap lingkungan, tetapi memberikan manfaat sebesar-sebesarnya bagi kehidupan manusia, inilah tujuan dan keberadaan PT Vale disini, di Vale tidak ada lagi visi untuk menjadi nomor satu, saat ini kita ingin merealisasikan tujuan keberadaan PT Vale yaitu memperbaiki kehidupan dan mentransformasi masa depan bersama,” paparnya.

Bagi CEO yang memimpin perusahaan tambnag di Indonesia yang berpusat di Brasil itu, Matano bisa menjadi salah satu kunci yang membuka banyak pintu-pintu kesejahteraan untuk masyarakat di sekitarnya.

Dia memastikan, sejak melakukan aktivitas bisnis dan pertambangannya sejak puluhan tahun lalu, PT Vale tak membiarkan limbah cair dari praktik pertambangannya membuncahi air Danau Matano.

Untuk mengendalikan limbah cairnya dari area tambang dan pabrik pengolahannya, PT Vale membangun lebih dari 100 kolam-kolam pengendapan dan dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air limbah yaitu Pakalangkai Water Treatment) dan Lamella Gravity Settler (LGS).

Hasliana Alimuddin, Manager Mine Infrastrukture Maintenance yang sedang memerika peralatan di Lamella Gravity Settler (LGS) / Foto: Mirwanto Muda – Wonuanews.

“Tadi rekan-rekan sudah Ke LGS kan, di sana semua air limpasan tambang harus dimapping, jangan sampai jatuh ke badan air tanpa di kontorl,” terangnya.

Dibangun pada tahun 2016, LGS adalah sebuah teknologi dan inovasi pengolahan limbah cair pertama di Indonesia yang dibangun oleh sebuah perusahaan tambang. Biasanya teknologi seperti ini digunakan untuk industri atau perusahaan air minum. Vale membuktikan teknologi ini juga layak di dunia tambang, mesti dengan cost yang besar.

“Jadi melalui treatment yang biasa dilakukan di industri seperti PDAM, dan BPPT (Badan Pengkajian lan Penerapan Teknologi) mengklaim ini adalah yang pertama yang dikonstruki di area tambang untuk pengelolaan limpasan tambang, menggunakan tekonologi bilah-bilah Lamela yang kita sebut Lamella Gravity Settler (LGS),” tutur Hasliana Alimuddin, Manager Mine Infrastrukture Maintenance kepada kami, saat berkunjung ke area LGS (3/8/2022).

Di tempat ini, dengan teknologi dan didukung insinyur-insinyur Vale yang berkualitas, limbah cair yang berasal dari limpasan-limpasan aktivitas tambang dan area pabrik dijernihkan dan dimurnikan hingga menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan dan aman untuk dikonsumsi.

Keberadaan LGS ini adalah ibarat gula yang menjadi penting untuk pemanis kopi pahit yang terseduh di dalam cangkir. Sebab LGS mampu membuat limbah cair dari aktivitas tambang PT Vale menjadi aman untuk dialirkan kembali ke badan air, termasuk ke Danau Matano.

Sehingga tak heran jika air danau Matano sama sekali tak berubah warna dan rasa. Dan untuk memastikan keamanannya kembal,i serta mematuhi standar baku mutu lingkungan, kualitas air danau secara berkala dan regular bersama Lembaga independen dipantau dan dilakukan pengukuran.

Selain menjaga kuallitas airnya tetap terjaga, PT Vale juga menjaga agar debu dari pabrik pengolahannya tak mencemari kualitas udara di sekitar dan Danau Matano. Dalam pengendalian emisi debu-debu dan partikulat di pabrik pengolahan nikelnya, Vale mengoperasikan ESP (Electrostatic Precipitator) atau penangkap debu dengan teknologi listrik statis dan Bag House (fasilitas penangkap debu dan partikulat) di tanur pelebur dan tanur pereduksi.

Area main plant, pabrik pengolahan nikle PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan/ Foto Mirwanto Muda, Wonuanews.

“Sejak kehadiran PT Vale, Sorowako ini memang berubah, tadinya sepi menjadi ramai, yang saya pastikan gak berubah itu adalah danau Matano, kalau saya sering berenang di tahun 2000 sampai sekarang masih seperti dulu, seindah warna aslinya, ini adalah sebuah kebanggan bagi saya, dan kalau dulu, kalau mau tahu pabrik itu jalan, lihat saja apakah berasap, kalau tidak berarti ada masalah, sekarang kita gak tau kalau pabrik jalan atau tidak, karena speknya sudah dilengkapai penangkap debu dari tahun 2005, dan teknologi ini sudah digunakan juga di pabrik Nikel di PT Antam, Pomalaa,” ujar Muh Iqbal, Director Ops Planning & Geotechnical PT Vale Indonesia (3/8/2022).

Selain tak pernah berubah warna, air Danau Matano juga tak pernah kering, padahal ribuan hektar lahan telah dibuka di sini untuk aktivitas tambang PT Vale.

Itu karena komitmen PT Vale dalam aktivitas pembukaan lahannya yang selalu mengintegrasikannya dengan reklamasi dan rehabilitasi. Cara ini juga meupakan salah satu bagian dari komitmennya menjaga keberlangsungan Danau Matano.

Kebun bibit modern atau nursery dengan 2,5 hektar pun dibangun sejak tahun 2006 untuk mendukung upaya reklamasi dan rehabilitasi termasuk pelestarian tanaman asli setempat atau endemik.

Dengan kapasitas produksi sebanyak 700.000 bibit (termasuk tanaman asli setempat dan tanaman endemik) pertahunnya, dari sini Vale menyuplai tanaman untuk kegiatan aktivitas rehabilitasi lahan pasca tambangnya.

Kegiatan reklamasi di salah satu area pasca tambang di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, area Konsesi PT Vale Indonesia / Foto: Mirwanto Muda, Wonuanews.

“Luas lahan pasca tambang yang berhasil direklamasi setiap tahun rata-rata di angka 4.000 hektar,” ungkap Harun Pandioga, Team Leader Revegation PT Vale Indonesia kepada kami saat berkunjung ke Nursery PT vale (5/8/2022).

“Untuk Total bukaan lahan hingga Juli 2022 sebesar 5.376,5 hektar, sementara total lahan yang telah direklamasi hingga Juli 2022 sebesar 3.338,61 hektar, Rencana reklamasi tahun 2022 sebesar 293,44 hektar, dan Realisasi reklamasi tahun 2022: 119.25 hektar,” tambah Erlin, Reclamation Engineer Untuk reklamasi, saat menjukkan area paca tambang yang sementara di reklamasi kepada kami.

Tidak hanya di area konsesinya saja, PT Vale bahkan melakukan reklamasi di sejumlah daerah untuk membuktikan keseriusannya dalam melestarikan bumi ini.

Ibarat lebah dan bunga, ikatan antara Danau Matano dan PT vale adalah sebuah simbiosis mutualisme. Hubungan yang harmonis dam saling menguntungkan. PT Vale berproduksi, Danau Matano tetap terjaga.

Sejak masih bernama PT Inco, PT Vale telah menjaga dan memanfaatkan Danau Matano ini untuk kebelanjutan produksi nikelnya.

Air danau yang mengalir ke Sungai Larona juga dimanfaatkan perusahaan dengan membagun sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk kebutuhan listriknya.

Tiga buah PLTA yaitu PLTA Larona (1979), PLTA Balambano (1999) dan PLTA Karebbe (2011) dengan total kapasitas terpasang sebesar 365 Megawatt dihidupkan dari air Danau Matano untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.

PLTA Balambano, Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dibangun PT Vale Indonesia di blok Sorowako Sulawesi selatan dengan kapasitas 110 MW, untuk menyuplai kebutuhan listrik pabrik pengolahannya/ Foto: Mirwanto Muda, Wonuanews.

Kami diajak ke PLTA Balambano untuk melihat pemanfaatan air Danau Matano menjadi energi listrik. PLTA Balambano adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dibangun pada tahun 1995 dan beroperasi untuk pertama kali pada tahun 1999, dengan kapasitas 110 MW. Di PLTA ini mempergunakan dua turbin sebagai penghasil daya listrik.

“PLTA Balambano memanfaatkan aliran Sungai Larona yang airnya dipasok dari tiga danau, yakni Matano, Mahalona, dan Towuti,” kata  Irwan Nuhali supervisor Operation Hidro PLTA, saat kami melihat stasiun pengendali dan pengamatan PLTA Balambano (4/8/2022).

Berkat air Danau Matano itu pula, PT Vale mampu mengurangi emisi karbon sebesar 1.096.705 ton CO2 ekuivalen per tahun dengan asumsi bahan bakar yang digunakan yaitu batubara atau 855.356 ton CO2 ekuivalen per tahun jika bahan bakar yang digunakan adalah diesel.

Tak hanya untuk kebutuhan operasional pabriknya saja, energi listrik dari ketiga PLTA yang dihidupkan dari air Danau Matano tersebut pula didistribusikan sebesar 10,7 Megawatt untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Luwu Timur melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Listrik dari ketiga PLTA milik PT Vale juga disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Luwu Timur dan sekitarnya. Tahun lalu, perseroan memasok total 10,7 MW kepada penduduk di luar wilayah tambang,” tambah Nuhali.

Dari PLTA ini pula Vale bisa memproduksi nikel berbasis energi bersih. Di tahun 2019 lalu, PT Vale sudah mengoperasikan boiler listrik yang energinya berasal dari PLTA untuk operasional pabrik pengolahan.

Dengan inovasi ini mampu menghilangkan penggunaan bahan bakar HSFO (high sulfur fuel oil) sebanyak 67.047 barel per tahun. Boiler listrik PT Vale juga menjadi pertama digunakan di industri pengolahan di Asia Tenggara.

Keberadaan tiga PLTA tersebut mampu menurunkan ketergantungan perusahaan terhadap bahan bakar fosil untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.

“Tujuan mulia kita adalah berkarya untuk memperbaiki kehidupan, saat ini global dekarbonisasi, issu climate change yang sangat sudah mendesak, harus ada solusi untuk transisi energi terbarukan, sehingga kita juga harus memastikan solusi dari semua praktek dari bisnis pertambangan kita, harus rendah emisi, kita harus menjadi solusi ultimate untuk climate change ini,” tegas Febriany Eddy peluncuran truk listrik pertama yang akan mendukung operasi pertambangan di Blok Sorowako pada Kamis (06/08/2022) di area pabrik PT Vale di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Truk listrik pertama yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia dalam mendukung operasi pertambangan di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan / Foto: Mirwanto Muda,Wonuanews.

Wow, sebuah upaya yang luar biasa dari PT Vale Indonesia. Dari upaya ini, di masa mendatang, Matano bisa menjadi salah satu role model penggunaan energi zero karbon dunia. Terutama, kiblat energi bagi kendaraan listrik masa depan yang rendah emisi di dunia tambang.

“Penggunaan truk listrik untuk mewujudkan komitmen kita menerapkan operasi rendah karbon di area operasional, sekaligus sebagai upaya cepat untuk melakukan efisiensi. “ujarnya.

Tak heran, PT Vale meraih berbagai penghargaan dan pujian dari berbagai kalangan dalam aktivitas pertambangannya.

Salah satunya berhasil meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Hijau oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta, Selasa (28/12/2021). Di antara 186 korporasi peraih Proper Hijau, PT Vale merupakan satu-satunya perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel.

Pujian yang pantas, karena selaksa komitmen telah ditunjukkan PT Vale di kawasan ini. Dunia tambang di Indonesia harusnya belajar dari cara Vale menambang, belajar dari peradaban Danau Matano, agar pertambangan tidak serampangan. Agar bukan hanya sekedar piring tempat makan, yang lalu ditinggal pergi menyisakan sepah dan kegersangan. Air menjadi keruh dan tangis pilu rakyat yang rumahnya porak poranda.

>
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *