Berita  

Prof Nur Ihsan Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Pertama di USN Kolaka

KOLAKA,WN—Prof Dr H Nur Ihsan HL, M.Hum dikukuhkan sebagai Profesor pertama dari Universitas Sembilanbelas November(USN) Kolaka Sulawesi Tenggara(Sultra). Pengukuhan Nur Ihsan yang dilakukan oleh Ketua Senat USN Kolaka Dr. Muhammad As Ari, A.M., S.H., LL.M, berlangsung disalah satu hotel di Kolaka pada(2/4/2026). Pengukuhan mengukuhkan Prof Dr H Nur Ihsan HL,M.Hum sebagai guru besar pendidikan bahasa, dan merupakan Profesor pertama yang lahir dari USN melalui sidang terbuka senat, Kamis (02/04/2026).
Pengukuhan dihadiri Sekda Kolaka Akbar, Ketua Pengadilan Negeri, mewakili unsur Forkopimda, anggota Senat USN Kolaka dan undangan.

Prof Nur Ihsan, dalam orasi ilmiahnya memaparkan bahwa pengukuhan guru besar bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, tanggung jawab untuk terus berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan bahasa yang menjadi jantung pembentukan karakter dan kecerdasan bangsa.

“Indonesia yang majemuk dengan 718 bahasa daerah yang terancam punah, peran pendidikan bahasa menjadi semakin strategis dan mendesak,” katanya.

Terkait orasi ilmiahnya berjudul “Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa: Membangun Kompetensi Komunikasi yang Santun, Kritis, dan Berdampak Sosial”, ini didasari pada pengamatan mendalam terhadap tantangan pembelajaran bahasa di era Kurikulum Merdeka dan revolusi digital. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menghadapi dilema ganda, di satu sisi harus menjadi perekat persatuan bangsa, di sisi lain harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kesantunan dan kearifan lokal.

Nur Ihsan juga Rektor USN Kolaka ini mengungkapkan bahwa melalui program pendidikan yang berorientasi pada penguatan kompetensi pragmatik, USN Kolaka dapat berkontribusi nyata pada peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya, dan Indonesia umumnya, sekaligus berkontribusi pada pencapaian target SDGs pendidikan di tingkat lokal dan nasional.

Dia juga menjelaskan tantangan pembelajaran bahasa di era digital yang telah mengubah lanskap komunikasi manusia secara fundamental. Generasi muda saat ini tumbuh sebagai digital natives yang akrab dengan berbagai platform media sosial, aplikasi pesan instan, dan konten digital. Fenomena ini membawa implikasi signifikan terhadap pembelajaran bahasa. Di satu sisi, teknologi menyediakan akses tak terbatas pada sumber belajar dan kesempatan untuk berinteraksi lintas budaya. Di sisi lain, teknologi juga membawa tantangan serius.

“Maraknya penggunaan bahasa gaul yang cenderung mengabaikan kaidah, menurunnya sensitivitas terhadap kesantunan berbahasa, dan menguatnya budaya komunikasi instan yang dangkal,” ungkapnya.

Prof Nur Ihsan, pria kelahiran Bulukumba(Sulsel) ini menegaskan, pendekatan pragmatik yang menekankan penggunaan bahasa dalam konteks sosial nyata, menawarkan solusi strategis untuk pembelajaran bahasa yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Berbeda dengan pendekatan struktural yang berfokus pada kaidah bahasa, pendekatan pragmatik mengajarkan bahasa sebagai alat untuk melakukan tindakan sosial, dengan memperhatikan konteks, hubungan sosial, norma budaya, dan tujuan komunikasi.

Sementara itu, Rektor USN Kolaka dalam sambutannya yang diwakili Wakil Rektor bidang Akademik, Ir Rina Remba,MT mengatakan, hari ini disaksikan tonggak bersejarah dalam perjalanan akademik Prof. Dr. Nur Ihsan HL yang resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Pendidikan Bahasa. Capaian ini merupakan puncak prestasi akademik yang tidak hanya membanggakan diri sendiri dan kuluarga, juga menjadi kebanggaan dan penambah khazanah intelektual bagi seluruh keluarga besar USN Kolaka.

“Beliau adalah Profesor pertama yang lahir dari rahim akademik USN Kolaka. Tanggal 2 April juga bertepatan Diesnatalis USN Kolaka ke-12 sejak menjadi Universitas Negeri. Ini juga merupakan kado Ulta USN Kolaka ke-12 tahun,” katanya.

Dikatakannya, di tengah derasnya arus informasi digital dan transformasi kurikulum, pendekatan pragmatik yang dikemukakan melalui orasi ilmiahnya, menawarkan paradigma baru yakni pembelajaran bahasa tidak sekadar transmisi kaidah linguistik, melainkan wahana pembentukan karakter komunikator yang mampu menempatkan diri secara tepat dalam keragaman konteks sosial-budaya.

“Gagasan ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mengedepankan penguatan kompetensi mendalam dan profil lulusan yang holistik,” ungkapnya.

Dalam orasinya Prof Nur Ihsan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi juga berpijak pada riset-riset empiris yang dilakukan di wilayah sendiri, termasuk kajian tentang kearifan lokal bahasa Tolaki Mekongga. Integrasi nilai-nilai lokal dalam kerangka pragmatik ini membuktikan bahwa USN Kolaka, sebagai “kampus berdampak”, mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran orisinal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus berkontribusi pada pelestarian warisan budaya.(**)

>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *