Melawan Takut Dibalik Pakaian Hazmat, Kisah Relawan BPBD Menjadi Pengubur Jenazah Covid-19

  • Share
Para relawan yang sedang memikul peti jenazah korabn Covid-19/Mirwanto Muda-wonuanews.com

Dalam menguburkan jenazah Covid-19, para relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diwajibkan menggunakan Hazmat, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh dan didesain khusus untuk melindungi mereka dari penularan virus Covid-19. Para relawan BPBD tampil di depan dengan APD tersebut bersama relawan lainnya.  Namun dibalik “hazmat” itu, relawan juga beresiko dan rentan menjadi korban Covid-19, berikut kisahnya.

Mirwanto Muda, Kolaka

Seperti yang dilakoni Muh. Noer Idrus, relawan BPBD Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara yang sering ditugaskan menjadi pengubur jenazah Covid-19. Pria yang sudah setahun lebih mengabdi sebagai relawan di BPBD Kolaka itu, selalu tampil terdepan dalam tugas penanganan Covid-19 di Kolaka.

Pengalamannya di organisasi pecinta alam dan pernah menjadi polisi Pamong Praja membuatnya tangguh untuk turun dilapangan dalam penanggulangan Covid-19. Tak heran dirinya selalu ditugaskan untuk menjadi pengubur jenazah korban Covid-19 di Kolaka.

Menjadi relawan BPBD memang bukanlah pilihan hidupnya, dirinya mengaku memiliki cita-cita menjadi PNS. Namun karena takdir yang membawanya, Noer mengaku ikhlas walaupun hanya menjadi relawan BPBD dengan honor yang pas-pasan.

“Pinginnya jadi PNS, makanya saya coba honor di polisi pamong praja saiapatu bisa diangkat, tapi nasib membawa saya menjadi relawan BPBD, dan saya syukuri dan ikhlas bisa dapat pekerjaan” terang bapak dua anak ini ditemui di rumahnya di jalan Pahlawan (25/5).

Soal resiko dalam bertugas menjadi pengubur jenazah Covid-19, Noer mengaku sudah menyerahkannya kepada Tuhan.

“Rasa takut pasti ada, tapi saya yakin semuanya aman jika kita mengikuti SOP dan menerapkan protokol kesehatan, dan semuanya saya serahkan kepada Tuhan,” terang pria berumur 41 tahun itu.

Resiko tinggi saat bertugas menjadi pengubur jenazah memang harus dihadapi oleh relawan. Mulai dari tertular hingga di menghadapi amukan keluarga korban dihadapinya.

“Bulan Januari lalu ada keluarga korban yang mengamuk dan merebut jenazah, tim pengubur tidak bisa berbuat banyak, mereka mengamuk dan bahkan mengancam, itu semua dihadapi oleh tim,” terangnya.

Saat membawa peti jenazah korban Covid-19 ke liang lahat, mereka juga harus berjibaku dengan rasa penat dan gerahnya pakaian hazmat.

“Kalau tempatnya jauh, harus berjalan kaki dan dipikul, kemudian diturunkan lagi dengan menggunakan tali, disitu keringat semakin banyak, panas sekali karena kita pakai hazmat, bisa anda bayangkan luar biasa capek dan panasnya, tapi dengan kerjasama tim semua bisa selesai,” tuturnya.

Selain rasa lelah, resiko tertular Covid-19 dan menyebar kepada keluarga dekat mereka adalah hal yang paling dikhwatirkan.

“Apalagi kita punya anak kecil di rumah, kalau takut pastilah, tapi demi kemanusiaan dan tanggung jawab harus dilaksanakan dan kami juga melaksanakan penguburan jenazah sudah dilengkapi APD dan Safety full body dan Ada cairan Dettol untuk pembersih virus yang di semprotkan setelah penguburan jenazah, juga tambah di Vitamin, dan saya nanti bersih betul baru ketemu sama anak dan keluarga,” ungkapnya.

Meski mendapat honor yang tak seberapa dari tugasnya menjadi tim pengubur Jenazah Noer mengaku senang bisa mengabdikan dirinya untuk membantu dalam misi kemanusiaan.

>
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *