Indonesia Peringkat Tiga Dunia Penderita TBC, Bagaimana Mencegah Penyakit Ini di Masyarakat

Health Educator PT Vale IGP Pomalaa, Mokhammad Syifak memberikan materi berkaitan pencegahan TBC pada masyarakat Ulu Baula

KOLAKA,WN—Health Educator PT Vale IGP Pomalaa, Mokhammad Syifak mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat tiga dunia penderita penyakit TBC, setelah negara Afrika dan India. Syief  dalam pemaparannya dihadapan warga di Balai Desa Ulu Baula Kecamatan Baula Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara(Sultra) pada(10/3/2026) dalam rangkaian kegiatan sosialisasi promosi kesehatan(promkes) penyakit menular Demam Berdarah Dengue(DBD) dan Tuberkulosis(TBC) di masyarakat.

Syifak dihadapan warga yang memenuhi Balai Desa Ulu Baula mengungkapkan bahwa penyakit TBC merupakan penyakit menular menjadi tantangan kesehatan diberbagai wilayah. Oleh sebab itu kata Syifak sebagai bentuk komitmen tanggungjawab PT Vale terhadap lingkungan kesehatan masyarakat dalam wilayah operasi perusahaan, senantiasa memberikan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi promosi kesehatan.

Penyakit TBC yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan dahak atau droplet saat batuk, bersin, atau berbicara.

“Penyakit TBC penularannya semakin meningkat bahkan saat ini bangsa Indonesia menempati urutan ketiga sebagai penderita penyakit TBC,”ungkapnya.

Bagaimana mencegah penyakit ini di masyarakat, bahwa salah satu langkah penting dalam mencegah penukaran TBC di masyarakat dengan memberikan edukasi sehingga bisa mengetahui gejala penyakit TBC, seperti batuk yang berkepanjangan hingga berbulan, berkeringat dimalam hari, dan penurunan berat badan.

Selanjutnya kata Syifak, pengobatan tuntas bagi penderita TBC juga sangat menentukan, harus menjalani pengobatan secara teratur hingga enam bulan bahkan bila gagal bisa sampai satu tahun penyembuhannya.

“Makanya kami dari pihak perusahaan PT Vale senantiasa melakukan edukasi kepada masyarakat melalui Promkes dan merupakan bentuk komitmen pembangunan yang berkelanjutan dalam hal kesehatan masyarakat secara khsusu dalam wilayah operasional perusahaan,”ungkapnya.

Meski demikian Syifak mengajak masyarakat agar Indonesia ini bisa diturunkan dari angka TBC nya, tentunya harus dimulai dari masyarakat terkecil yaitu keluarga. Apa yang dilakukan di Desa Ulubaula saat ini adalah untuk memberikan edukasi melalui Promkes.

“Mari kita semua berkomitmen untuk menurunkan angka TBC nya Indonesia, dimulai dari lingkungan keluarga,”katanya.

Untuk itu Syifak menegaskan perlu menjaga pola hidup sehat tidak membuang ludah sembarangan, karena seorang penderita TBC dengan meludah sembarangan bisa menyebabkan penularan virus penyakit tersebut. Selain ruangan kurang terkena sinar matahari hingga lembab juga bisa menyebabkan tertukar virus TBC.

Penderita TBC perlu menjaga bila batuk dan tidak membuang ludah atau dahak sembarangan. Semua orang beresiko terkena TBC.

“Ada beberapa kelompok yang sangat paling rentan terkena penyakit TBC yaitu orang yang tinggal satu rumah dengan penderita TBC, jadi kalau dalam satu rumah ada satu saja penderita TBC maka dalam satu keluarga tersebut sangat beresiko tertular,”ujarnya.

Bagaimana supaya tidak tertular tentunya yang sakit TBC dianjurkan untuk berobat ke Puskesmas untuk dilakukan pengobatan, dan harus dilakukan pemantauan untuk pengobatan secara teratur, begitupun halnya yang terinfeksi HIV, daya tahan tubuhnya lemah sangat beresiko terkena TBC, selain itu yang paling rentan terkena TBC adalah kelompok usia lanjut termasuk yang merokok aktif.

“Usia lanjut yang masih kebiasaan merokok beresiko terkena TBC, dani TBC bisa disembuhkan asal pengobatannya harus tuntas, dan harus makan makanan bergizi sehingga daya tahan tubuh bisa meningkat tidak mudah terkena virus TBC. Kami berharap bapak dan ibu yang sudah mengikuti sosialisasi Promkes ini agar menyampaikan kepada sanak keluarga dan tetangga agar berperilaku hidup sehat sehingga tidak. udah terkena virus TBC,”paparnya.(**)

>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *