KOLAKA, WN— Puusara Kerajaan Mekongga, Gupira dengan tegas mengatakan, penobatan dan pengambilan sumpah Bokeo atau Raja Mekongga tidak sah tanpa persetujuan Puusara atau keturunan Wasasi/Wasebenggali.
“Walaupun Pitu Tonomotuo (7 orang tua) setuju, tapi kalau Puusara tidak setuju, maka penobatan tidak jadi (sah),” tegas YM Gupira dihadapan Raja-raja dan undangan pada Penobatan dan pengambilan sumpah Bokeo XX Kerajaan Mekongga, Kamis (27/08/2026) di Pendopo Makam Sangia Nibandera, Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako.
Gupira mengungkapkan, sebelumnya dirinya merupakan pelaksanaan tugas Bokeo Kerajaan Mekongga pasca mangkatnya Bokeo XIX PYM Khaerun Dahlan. Namun muncul polemik dengan pelantikan beberapa Bokeo Mekongga tanpa sepengetahuan dirinya.
“Itu artinya mereka tidak menghormati saya selaku pelaksana tugas Bokeo, lebih-lebih saya sebagai Pusara yang mengambil sumpah Raja atau Bokeo. Saya garis bawahi, tidak ada wakil Bokeo di Kerajaan Mekongga,” ungkapnya.
Dia juga meluruskan adanya anggapan sebagian orang yang mengatakan kalau dia menghambat penobatan Bokeo dari pihak lain, dengan alasan supaya lama menduduki jabatan Pls. Bokeo. Bahkan ada beberapa kalangan yang meminta supaya dia diganti karena tidak mau diatur.
“Saya mau tanya pada perusahaan-perusahaan, adakah pelaksanaan tugas Bokeo menjual lahan disana?,” tanyanya.
YM Gupira juga menyampaikan kenapa harus menobatkan PYM Firman Guro sebagai Bokeo XX Kerajaan Mekongga, selain sesuai tatanan adat yakni melalui musyawarah perangkat Kerajaan Mekongga, dia juga satu-satunya calon yang meminta supaya di nobatkan dan disumpah sesuai penobatan Bokeo terdahulu, dimana didalamnya ada ani-ani, arang, jahe, kain kapan dan tanah.
Ani-ani bermakna jika melanggar maka hatinya akan teriris pedih, kedua arang yang bermakna panasnya bara api lebih panas hatinya. Ketiga jahe yang bermakna pedisnya jahe lebih pedis hatinya, keempat kain kapan bermakna pembungkus mayat, dan kelima tanah yang bermakna jika melanggar akan ditindis tanah.
YM Gupira berharap dengan Penobatan PYM Firman Guro sebagai Bokeo XX Kerajaan Mekongga, maka polemik Bokeo kedepan tidak terjadi lagi, tapi bagaimana semua masyarakat Mekongga bersatu. Karena itulah, pada Penobatan itu, dirinya membawa anggota rumpun Puusara, sebab jika kedepan dirinya mengundurkan diri dari perangkat Kerajaan, maka ada yang meneruskan. (**)













