KOLAKA,WM–Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana(P2KB) Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara(Sultra) dr H Muh Aris ditemui media ini di ruang kerjanya pada(18/10/2026) menuturkan bahwa tugas berat yang diemban Dinas P2KB saat ini adalah bagaimana menyelesaikan masalah stunting.
“Jadi stunting yang dulu dan sekarang, kalau dulu itu semua orang bergerak tapi ternyata tidak mengarah kepenyelesaian masalah secara real.Sehingga semua orang bergerak luar biasa Kolaka juara satu pengelolaan stunting tapi ternyata setelah disurvei malah stunting naik. Setelah saya dipercaya oleh pak Bupati membuat sebuah gebrakan inovasi namanya Kolaka Keren artinya kendali gas stunting berbasis risiko Nyata,”kata dr Aris.
Apa risiko nyatanya, kata Aris bahwa di Dinas P2KB ada namanya KRS atau Keluarga Rentan Stunting, lantas siapa-siapa itu yang masuk kategori KRS, yakni kata Aris setiap keluarga yang tidak memiliki jamban di rumahnya. Sehingga inilah yang membuat stunting di Kolaka meningkat, selain itu penggunaan air bersih yang tidak sesuai standar dan itu adalah hasil survey. “Jadi bantuan apapun yang diberikan kepada masyarakat, tetapi kalau tidak memiliki Jamban dan air bersih maka stunting tidak akan pernah turun grafiknya, dan masyarakat yang tidak memiliki jamban dan air bersih umumnya adalah warga pesisir mencapai ribuan kepala keluarga,”ujarnya.
Menurut dr Aris, bahwa sebelumnya semua perusahaan berkontribusi untuk membantu pemerintah menyelesaikan masalah stunting dengan cara memberikan bantuan sembako, bahkan salah satu perusahaan yakni PT Vale memberikan sumbangan sebesar Rp 500 juta untuk memberikan sembako namun cara seperti ini tidak tepat sasaran dan tidak bisa menyelesaikan masalahnya di masyarakat, karena syarat Utamanya tidak tersentuh yaitu jamban dan air bersih yang memadai.”Salah satu perusahaan tambang yakni PT Ceria Nugraha Indotama, kini sudah mengambil tindakan dilapangan untuk membantu meneyelesaikan persoalan stunting diareal wilayah operasionalnya membantu masyarakat membangunkan jamban maupun air bersih khususnya masyarakat Wolo dan sekitarnya,”ungkap Aris mantan Kadis Kesehatan Kolaka.
Diakuinya bahwa dari dulu perusahaan sebenarnya sudah diperintah dari pusat untuk bergerak di bidang stunting. Tapi salah langkah, unag banyak digelontorkan untuk menyelesaikan stunting, tetapi salah langkah, karena terbukti setelah disurvei ternyata grafiknya tetap tinggi. “Itu artinya tidak tepat sasaran, tidak mengena pada substansi persoalan,”ujarnya.
Dengan inovasi Kolaka Keren, tujuannya bagaimana mengendalikan berbasis risiko nyata, dengan adanya kader penyuluh yang dimiliki Dinas P2KB dilapangan sebanyak 651 orang tersebar disetiap dusun dan lingkungan se Kabupaten Kolaka.”Kader-kader inilah yang paling mengetahui persis kondisi setiap keluarga yang ada diwilayah tugasnya masing-masing, mengetahui siapa keluarga yang beulm memiliki jamban, dan air bersih, bahkan kalau ada anak yang tidak bersekolah pun juga diketahui anaknya siapa,”ungkap Aris.(**)













