Hijau, Nafas Janji Kami

Enam musim langit biru menunggu di atas Blok Lapao-pao

Kami berjalan di tanah panas di antara debu logam dan angin yang menampar lutut nyaris patah tangan kotor hati tetap bersih

Kami menangis karena lama tertahan

napas yang tercekik parut yang perlahan sembuh kini semua menjadi hijau

Kami anak negeri

bukan raksasa dengan kantong penuh emas

tetapi kami punya cinta

cinta yang menumbuhkan dan merawat

menembus kulit hingga ke tulang menjadi doa yang diam namun tak pernah henti

Musim ketujuh tiba

tanah yang retak bernapas kembali air yang haus kini mengalir hijau hadir bukan sebagai hadiah bukan sebagai piala ia menjadi saksi keringat kami luka kami doa kami.

Kami jatuh berlutut mencium tanah basah menghirup hujan pertama yang terasa seperti kemenangan

air mata ini bukan sekadar haru ia adalah pelepasan dari semua beban janji yang lahir dari rahim negeri sendiri yang tumbuh dari ciuman pertama pada bumi yang tetap mampu melahirkan kehidupan

Hijau adalah napas kami

Hijau adalah doa yang dijawab Hijau adalah cinta yang tidak membutuhkan tepuk tangan hanya pengakuan dari bumi sendiri

Hari ini kami bangga meski sederhana meski pas-pasan meski sering dicemooh kami berdiri tegak menjadi bukti bahwa anak negeri pun bisa unggul bahwa lokal pun bisa menjadi cahaya di dunia yang luas

Ketika Proper Hijau hadir pertama kali untuk kami

kami tahu ini bukan sekadar penghargaan.

ini pengakuan dari bumi dari keringat dari janji yang ditepati

Bagaimana kami tidak menangis?

Bagaimana kami tidak bangga? kami berdiri Kalian Ceria

dan di sunyi yang lembut bumi berbisik

Kecil tapi indah

Kalian layak

Kalian berhasil

dan kalian tetap mencintaiku

Wolo, 8 April 2026

Ihwan Kadir (Koordinator Profesional Assesment (PA) Ceria Wolo

>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *