KOLAKA,WN–Ketua Dewan Adat Mekongga(DAM) Muh Jayadin mengungkapkan dengan rasa syukur dalam rangka melaksanakan acara persiapan memperingati Hari Kebudayaan Mekongga yang ke-1 di tahun 2026 ini. “Secara khusus kami dari komunitas Mekongga mengucapkan satu rasa syukur yang luar biasa kepada Pemda Kolaka Sulawesi Tenggara (Sultra), dan kepada kita semua dengan adanya penetapan Hari Kebudayaan Mekongga di Kabupaten Kolaka,”ungkap Jayadin saat menghadiri rapat panitia dalam rangka mempersiapkan perayaan hari Kebudayaan Mekongga yang dilaksanakan di Aula sasana Praja Pemda Kolaka pada(26/10/2026).
Dalam pertemuan itu Ketua DAM Muh Jayadin menekankan bahwa dengan agenda rencana pelaksanaan Hari Kebudayaan Mekongga(HKM) merupakan satu penguatan bahwa memang keberadaan Suku Mekongga yang sudah tidak perlu lagi diperdebatkan.”Karena memang kita ada, orang Mekongga ada, kemudian bahasanya ada, budayanya ada, tempatnya ada, semua ada, sehingga tidak perlu lagi kita perdebatkan terus-menerus,”ungkap Jayadin mantan Wakil dan Plt Bupati Kolaka seraya berhaeap dengan penetapan HKM ini semakin memperkuat keberadaan Suku Mekongga di Kabupaten Kolaka yang sama kita cintai.
Ia menekankan bahwa dengan memperingati HKM yang ke-1 ini sebagaimana yang sudah dipaparkan oleh Asisten I Setda Kolaka Mirdhan Athar sudah sangat jelas dan luar biasa bahwa memperingati HKM ini turut melibatkan seluruh komunitas suku yang ada di Kabupaten Kolaka. “Jadi saya mohon selaku Ketua Dewan Adat Mekonga meminta kepada kita semua, ketua-ketua kerukunan, ketua-ketua paguyuban, mari kita bersatu. Ini bukan untuk orang Mekongga saja, tapi untuk Kolaka yang kita sama-sama cintai. Kita semua ada di Kolaka, berarti kita semua ini adalah orang Kolaka,”ujarnya.
Kemudian ada salah satu kegiatan yang masih tentatif terkait masalah Mosehe, selakau Ketua DAM, Ia menyarankan bilamana sampai dengan tanggal pelaksanaan belum ada Bokeo yang defenitif, maka Mosehe tidak perlu dilaksanakan. Jayadin menjelaskan bahwa Mosehe itu apa? Mosehe itu adalah pensucian negeri, misalnya setelah terjadi bencana penyakit, setelah bencana alam, kemudian setelah perang. “Ini kan boleh kita katakan juga perang saudara dengan lahirnya empat Bokeo, ini sudah bagian dari perang saudara sebenarnya, masing-masing Bokeo dengan pendukungnya mempertahankan keberadaannya sebagai Bokeo. Dan Ini belum selesai, masih berpolemik terus.”Jadi kalau sampai hari H nanti belum ada Bokeo yang resmi diakui oleh seluruh komunitas mayoritas adat Mekongga, oleh lembaga-lembaga adat Mekongga yang ada, kemudian pemerintah setempat, tidak usah kita laksanakan Mosehe. “Jangan sampai kita laksanakan besoknya sudah ada yang masukkan gugatan ke pengadilan,”ujar Jayadin disambut tawa hadirin.
Menurutnya dengan lahirnya empat Bokeo ini, suatu suasana yang betul-betul menjatuhkan martabat.”Saya diundang empat kali pengukuhan dan itu semua keluaraga, namun saya sampaikan bahwa tidak akan hadir baik sebagai pribadi maupun sebagai ketua dewan adat, saya memposisikan diri sebagai orang netral, tidak melibatkan diri di dalamnya,”ungkap Jayadin seraya mengajak kepada semua pihak agar bersabar menunggu lahirnya Bokeo yang sah, yang betul-betul didukung oleh semua komunitas termasuk pemerintah.(**)
JAKARTA,WN--PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale atau Perseroan, Kode Emiten BEI: Inco) pada 29 Oktober…
KOLAKA, WN--Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka terus memperkuat komitmennya dalam membuka peluang kerja bagi para…
KOLAKA,WN--Top Swalayan berdiri sejak 2013 lalu, merupakan salah satu pasar modern menjadi ikon pusat perbelanjaan…
KOLAKA,WN--Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana(PPKB) Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara (Sultra) ditemui media ini…
SULTENG,WN--Aktivitas operasional pertambangan salah satu perusahaan di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah(Sulteng) lumpuh total akibat aksi…
KOLAKA, WN--- Empat Organisasi Masyarakat (Ormas) yang berasal dari Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka yakni Forum…